Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Oktober 2015

Lima Perkara Penghalang Menjadi Sholeh


KH. Nur Hannan, Lc, M.Hi*

الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَرْسَلَ إِلَيْنَا أَفْضَلَ الرُّسُلِ وَأَنْزَلَ عَلَيْنَا أَفْضَلَ الكُتُبِ وجَعَلَنَا لَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ وَأَمَرَنَا بِالإِجْتِمَاعِ عَلى الحَق وَالهُدَى وَنَهَانَا عَنْ الإِفْتِرَاقِ وَاتِّبَاعِ الهَوَى، أَحْمَدُهُ تَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لاَ تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الحُسْنَى وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، تَرَكَ أُمَّتَهُ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لاَ خَيْرَ إِلاَّ دَلَّهَا عَلَيْهِ وَلاَ شَرَّ إِلاَّ حَذَّرَهَا مِنْهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah Jum'at Rahimakullah
Dalam kesempatan yang sangat baik ini, kami mengajak terhadap diri  saya sendiri dan umumnya terhadap jamaah agar kita tidak bosan-bosannya senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Hal itu tercapai dengan cara menjalankan perintah-perintahNya dan berusaha menjauhi LaranganNya. Karena dengan takwa inilah kita bisa meraih kesuksesan di dunia maupun di akhirat.

Ma’asirol Muslimin Rahimakumullah
Ada beberapa cara untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah diantaranya yang pertama, dengan mensyukuri nikmat iman, karena nikmat ini merupakan nikmat yang paling besar yang Allah anugrahkan terhadap hambaNya dan nikmat iman ini merupakan tiket kita untuk berjumpa Allah Swt di akhirat nanti.
Selanjutnya, cara meningkatkan ketakwaan kepada Allah yang kedua ialah dengan cara meningkatkan kualitas keimanan kita kepadaNya. Yaitu dengan menjalankan semua amal kebaikan yang mana merupakan perintah Allah Swt dan menjauhi amal keburukan yang mana merupakan laranganNya. Karena, iman dan amal sholeh ini ibarat dua mata sisi uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Dalam artian iman akan bernilai jika dibarengi dengan amal sholeh dan begitu juga amal sholeh bisa berharga jika didasari dengan keimanan.  Jika kita kaji dalam Al-Qur’an maka akan banyak kita temukan firman Allah yang menyebutkan kedua istilah iman dan amal sholeh selalu bergandengan. Diantaranya firman Allah dalam surat Al-Baqarah  ayat 25 sebagaimana berikut:

Artinya: dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Dalam ayat diatas orang disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya yaitu orang yang beriman dalam beramal sholeh. Jadi kedua istilah itu saling melengkapi satu sama lainnya.  Dan Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan tentang pentingya iman dan amal sholeh.

Ma’asirol Muslimin Rahimakumullah
Tentunya kita semua berharap diri dan orang-orang dilingkungan kita, tak hanya beriman melainkan juga beramal sholeh. Tetapi,  tidak semua yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan. Disini mari kita merenungkan kembali apa yang telah disampaikan Sayyidina Ali karramallahu wajhahu dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau berkata:
لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَّالِحِيْنَ, الْقَنَاعَةُ بِاالْجَهْلِ,وَ الْحِرْصُ عَلَى الْدُنْيَا وَالْشُحُّ بِالفَضْلِ وَألّرِياءُ فِيْ الْعَمَلِ وَالْاعجاَبُ بِالرَأْيِ
Perkataan Sayyidina Ali diatas dapat diartikan,  ada lima perkara  yang menghalangi manusia menjadi sholeh ke lima hal itu yaitu: Pertama, Al-Qonaatu biljahli,  merasa senang  dengan kebodohan, orang yang tidak menyadiri dirinya bodoh (merasa pintar) maka dia tidak akan menjadi orang sholeh.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa terus menuntut ilmu, karena dengan ilmu bisa mengerti keluasaan Allah Swt., dengan mengetahui keagungan Allah maka diharapkan keimanan  dan ketaatan kita terus bertambah kualitasnya. inilah yang disebutkan oleh Allah dalam firmannya:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya: Sesungguhnya hanya orang yang mempunyai ilmu (ulama’) yang takut kepada Allah.

Jika dalam diri kita belum ada rasa khauf kepadaNya  kemudian kita  merasa diri kita berilmu maka hal tersebut menjadi penghalang kita untuk bertakwa kepadaNya.

Ma’asirol Muslimin Rahimakumullah
Kedua dan ketiga, al-Hirsu ‘ala ad-Dhunyya wal syuhhu bil- fadli, rakus terhadap dunia dan bahil terhadap anugerah yang Allah berikan. Manusia jika sudah dihinggapi rasa rakus terhadap dunia dalam dirinya maka dia tidak akan perduli cara yang ia digunakan untuk mendapatkan dunia, apakah sudah sesuai dengan tuntunan agama atau tidak? bagi dirinya yang penting bagaimana mendapatkan harta dunia sebanyak-banyaknya.

Ma’asirol muslimin rahimakumullah
Keempat, wariya'u fil ‘amal, didalam setiap amal kebaikannya tidak didasari rasa ikhlas karena Allah, melainkan beramal hanya ingin dipandang oleh manusia.

kelima, wal i'jabu birro'yi, membanggakan dirinya sendirinya dan mengangap orang lain lebih rendah darinya.
Kelima perkara Inilah yang disampaikan oleh Sayyidina Ali yang dapat menghambat seseorang menjadi orang yang sholeh. Mudah-mudahan kita senantiasa dijaga dari kelima hal diatas sehingga kita tetap semangat beramal sholeh kepadanNya. Amin ya rabbal a’lamin.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ


Selasa, 18 November 2014

Mengelola Bumi Tuhan



إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه، وعلى آله وصحبه، وسلم تسليما كثيرا. اما بعد.اتقوا الله ما استطتم فقد فاز المتقون, اعوذ بالله من الشيطان الرجيم: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُباً . ,صدق الله العظيم.
            Bahwa salah satu tugas khalifah yaitu me-manage bumi, manusia oleh Allah di tunjuk sebagai khalifah ini tidak berbekal spiritual melainkan berbekal Ilmu, hal ini tergambar ketika Allah SWT. Menyampaikan program dihadapan makhluk langit (sekawanan malaikat) “ bahwa Allah SWT. Akan menciptakan khalifah di muka bumi”  justru makhluk langitlah  yang pertama kali protes dan demo sedemikian pedas  dengan memprogandakan hal yang paling negative (makhluk itu pasti suka merusak dan suka menumpahkan darah) dan  dengan PEDEnya para malaikat mengatakan dirinya makhluk yang paling suci dan menyatakan dirinya makhluk yang selalu bertasbih kepada alllah, sebuah alasan yang sangat logis, tetapi hal tersebut hanya di pahami oleh logika malaikat bukan logika tuhan. Apa jawab Alllah, ketika melihat demo makhluknya ini, protes dari orang yang tidak level tidak perlu dijawab dengan logika mereka cukup di pinggirkan saja, kamu itu tau apa? (inni a’lamu mala ta’lamun).
            Ternyata Adam di tunjuk sebagai khalifah untuk mengelola bumi (Al-ard) bukan mengelola langit (As-Sama’). Maka Allah memberi tahukan bahwa untuk mengelola bumi bukan dengan tahmid, taqdis, tasbih apalagi di istighosahin, jadi yang di perlukan untuk memenage bumi adalah ilmu, maka allah memberikan ilmu terlebih dahulu kepada nabi adam (wa a’llama aadamal al-asma’) itu memberi indikasi bahwa siapapun yang merasa adak Adam yang sudah dibumi mau tidak mau harus menuntut ilmu, karena kita bukan tinggal di langit .
            Selanjutnya seberapa perolehan kita terhadap ilmu tersebut ? itu di serahkan kepada kemampuan masing-masing. Jadi justru dengan ilmu inilah bumi menjadi maju bukan dengan wiridan, tapi sekali lagi ini hanya khusus pengelolaan. Akhirnya  sekawanan malaikat  itu sujud tunduk terhadap nabi adam setelah di tes oleh Allah dan dia tidak bisa menjawabnya dan  (maaf) adam bisa karena soal dan jawabanan sudah di bocorkan terlebih dahulu, dan itu wewenang tuhan. 
            Yang perlu digaris bawahi ketika adam mengalami problemnya sendiri, dideportasi dari surga, ilmunya tidak bisa mengatasi problem yang beliau di hadapi, adam di beri ilmu yang kedua yaitu bagaimana cara bertaubat (fatalaqqo adamu min robbihi kalimatin fataba alaihi) hal tersebut memberi indikasi bahwa sebuah pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan sekedar sebuah ilmu, jika hanya ilmu yang di kedepankan maka prediksi  malaikat itu akan terwujud. Ilmu itu berpotensi merusak dan saling membunuh karena tidak di barengi dengan moral, tapi Cuma moral saja tidak bisa memajukan. Karena, pertanian, tehnologi  tidak bisa dibacakan alif lam mim,  ekonomi  tidak bisa sekedar di bacakan waqiah. Untuk itu di perlukan perpaduan antara ikhtiyar lahiriyah (ilmu) dengan spiritual batiniyah (sufistik )sehingga ilmu yang dipadukan dengan spiritual malaikat jika berada dalam diri seorang muslim untuk beribadah kepada Allah maka manusia mukmin tersebut pangkatnya jauh di banding kawanan malaikat.
            Ayat yang di kemukakan di muka tadi memberi gambaran betapa nabi Musa AS, yang congkak, merasa sebuah nabi yang hebat dan sangat sakti. Lalu dengan caranya sendiri allah SWT. Menegur  “hai musa bahwa di atas langit masih ada langit” dan siapa dia? cari saja di sini dan di sini. Itulah sebabnya nabi Musa sangat terganggu atas jawaban tuhan itu dan sangat ingin memburu siapa orang yang lebih darinya. Maka dengan tegas dia mempersiapkan bersama ajudannya untuk pergi ke tempat bertemunya dua lautan (majmaal bahrain) dengan membawa bekal  secukupnya. Setelah melewati perjalanan begitu panjang dan jauh akhirnya ketemulah dengan hamba allah yang memiliki ilmu langsung dari allah.
            Yang perlu digaris bawahi adalah sesungguhnya ilmu itu harus di buru, kita tidak bisa hanya dengan berpangku tangan seperti halnya nabi musa susah payah dengan untuk menemui sang guru. Sama dengan santri berburu tempat pendidikan yang baik dan seorang guru yang terbaik sebagaimana nabi musa memburu nabi khidir.
            Kita mengetahui bahwa tiga tes yang di ajukan nabi khidir kepada nabi musa dan ketiga-tiganya gagal, nabi musa tidak lulus tetapi meskipun begitu beliau tetap seorang nabi yang luar biasa. Dalam jurnal  Al-qur-an menunjuk khidir yang artinya hijau, karena kesaktian beliau setiap bumi yang dipijaknya menjadi subur, nama asli beliau balya bin malkan, pertanyaannya apakah beliau masih hidup sebgaaimana anggapan semua orang?
            Hal ini memang menjadi kontrofersi dikalangan ulama’ tetapi, Imam ibnu katsir dengan tegasnya  mengatakan bahwa beliau sudah wafat karena hal tersebut mengganggu eksistensi kenabian nabi Muhammad , jadi selama nabi masih eksis tidak ada nabi sebelumnya yang masih hidup, karena beliau penutup para nabi dan rosul.   
            Mudah mudahan kita bisa mendalami ilmu baik ilmu yang muktasaf dan ilmu kasaf dengan cara yang benar sesuai dengan tuntutan Allah. Amin ya rabbal a’lamin…
بَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأنِ الْعَظِيْمِ ,وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ وَبِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَةِ الْقُرْانِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ,وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاِيَّاكُمْ اِنَّهُ سَمِيْعٌ الْعَالِم وَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَ الْغُفُوْرُ الْرَّحِيْمُ
.Oleh: KH. A. Mustain Syafi’I, M.Ag