Jumat, 29 Mei 2015
Selasa, 21 April 2015
5 Prinsip Nilai Dasar Pesantren Tebuireng*
Dunia pendidikan
kita masih menjadi sorotan publik,
pendidikan yang diharapkan belum mampu menopang ketidakberdayaan masyarakat
agar tegak, tumbuh dan berkembang menjadi masyarakat terdepan dan sejahtera
belum terwujud. Lebih tragsinya lagi, krisis moralitas terjadi dikalangan
generasi muda. Para lulusan bangku sekolah dan perkuliahan pun banyak yang
menjadi koruptor, tawuran antar pelajar, subsidi jawaban ketika UN, dan lainya.
Tentunya ada persoalan serius di dunia pendidikan kita. Sesungguhya, hal
demikian membutuhkan solusi yang tepat sasaran.
Pesantren
merupakan sistem pendidikan tertua yang ada di negara kita. Eksistensinya tidak
diragukan, telah teruji oleh sejarah hingga era kini masih terus bertahan
ditengah kompetisi yang sangat ketat. Bahkan bukanlah hal yang berlebihan bila
dikatakan bahwa pesantren telah menjadi satu wujud dari entitas budaya
Indonesia. Yang dengan sendirinya menjalani proses sosialisasi yang relatif
insentif. Indikasinya adalah wujud entitas budaya ini telah diakui dan diterima
kehadirannya.
Hadratussyaikh
KH. M Hasyim Asy’ari, melalui
pesantren Tebuireng mewariskan ajaran yang sangat berharga bagi para
santri-santrinya. Setidaknya terdapat lima
nilai inti yang disarikan dari beberapa buku karya pendiri NU itu. yang lima nilai dasar itu benar-benar ditekankan oleh Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid semenjak beliau menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Pertama, ikhlas. Merupakan rangkaian enam
huruf yang sering dan mudah kita ucapkan. Namun dalam aplikasinya, ternyata
perkara ini tidak mudah untuk kita lakukan. Bahkan mungkin diri kita pun tidak
bisa mengukur seberapa besar kadar keikhlasan kita dalam mengerjakan sesuatu.
Ikhlas berarti bersih. Suci dari segala niat buruk di dalam hati. Ikhlas
berarti hanya mengharap ridho Allah semata. Tanpa pamer, riya’, atau mengharap
pujian dari siapapun. Baginya, apa yang dia lakukan adalah untuk
mempersembahkan yang terbaik bagi Allah. hal inilah yang menjadi pokok pertama
yang ditekanankan di pondok pesantren Tebuireng.
Kedua, jujur. kejujuran merupakan kartu
kredit yang sangat dapat diandalkan, walaupun hendak membeli barang apapun
tidak akan menimbulkan kecurigaan orang lain. Jujur di dalam pergaulan
masyarakat ibarat adalah sebuah tali pengikat. Orang yang jujur, walaupun
berada di tempat manapun, pada waktu apapun, akan dengan tulus hati menghadapi
segala masalah, tidak ada penyesalan, tidak ada rasa takut, dapat hidup dengan
tenang, rileks dan aman. Di tebuireng
pembelajaran kejujuran dimulai
dari tidak diperbolehkannya menyontek bagi siswa yang mengikuti ujian,
diberlakukannya kantin jujur dan kemudian diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Ketiga, kerja keras. Berarti berusaha dan
berjuang dengan sungguh-sungguh dan
gigih untuk mencapai suatu cita-cita. Bekerja keras mengeluarkan tenaga secara
fisik dan berpikir sungguh-sungguh untuk meraih prestasi, kemudian disertai
dengan berserah diri kepada Allah. Keempat, tanggung jawab. Merupakan prilaku yang harus
dikerjakan oleh setiap santri dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa tanggung jawab
maka kehidupan kita akan kacau. Misalnya,
santri tidak menjalankan kewajibannya sebagai santri di Pesantren, tentu akan
semau sendiri. Tugas utama seorang santri, yakni bertanggung jawab untuk
belajar dengan sungguh-sungguh di pesantren. Pentingnya tanggung jawab disini
agar tidak mengalami kegagalan dan kerugian baik untuk dirinya sendiri atau
bagi orang lain disekitarnya. karena dengannya kita akan mendapatkan hak kita
dengan seutuhnya serta akan memiliki simpati yang besar yang aman dengan
sendirinya derajat dan kualitasnya akan naik dimata orang lain. Kelima,
Tasamuh. bersikap
lapang hati, peduli, toleran, anti kekerasan, menghargai perbedaan, dan
menghargai hak orang lain. kelima
poin itulah yang diterapkan oleh Pesantren tebuireng untuk mendidik dan
membekali santri-santrinya.
Penanaman lima nilai-nilai dasar pesantren Tebuireng dalam aktifitas sehari-hari membantu
menyiapkan generasi masa depan yang memiliki karakter kuat. Dalam hal ini para
santri mendapat bimbingan dan keteladan langsung oleh para pembinanya.
Selanjutnya apa yang dilakukan di pesantren tidak hanya menekankan pentingnya
pengaplikasian nilai-nilai itu saja. melainkan, memberikan contoh langsung
dalam kehidupan sehari-hari di Pesantren. Prinsip nilai dasar yang diwariskan
oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ini, penting untuk dijadikan landasan
dalam menjalani kehidupan di pesantren Tebuireng. Wallahu a'lam bisssawab.
*Sumber Majalah Tebuireng edisi 35 (2014)
Oleh, Muhammad Ali Ridho, Mahasiswa
Mahad Aly Tebuireng Jombang
Rubrik Suara Mahasiswa:
Memberikan ruang spesial bagi teman-teman Mahasiswa/wi.
Silahkan, kirimkan karya
Anda sekitar 800-900 kata ke meja
redaksi Majalah Tebuireng(majalahtebuireng@yahoo.co.id). Salam karya!
|
Minggu, 05 April 2015
Esensi zakat kita*
Setiap
Ibadah dalam Agama kita mempunyai Stressing yang berbeda, ada Ibadah yang di
sebut Ibadah Qolbiyah (hati), sekalipun anggota badan tidak banyak ikut berperan, hal itu dinilai Ibadah. Kita bisa saja duduk santai
di kantor, menghadapi tamu tapi di hati kita terbisik Lafadz Allah, itu namanya
Ibadah hati, kita bisa saja berdiri di depan pantai, menikmati luasnya pantai terhampar
membiru, hati kita berucap “ bukan main indahnya laut ini, kalau laut aja begini
hebat, bagaimana lagi yang menciptkanan ? ” wisata yang seperti ini berpahala,
karena kita tidak mengagumi laut, tetapi mengagumi yang menciptkan, ini di
sebut Wisata Rohani, Ibadah Qolbiyah, Dzikir Khofy.
Adapula
Ibadah Qolbiyah-Badaniyah, selain hati, anggota badan juga ikut berperan, adapun harta tidak terlalu berperan, seperti Puasa
Ramadhan, asal hati punya keinginan dan mau
mengerjakan, Ibadah itu bisa terlaksana, Sholat walaupun ada unsure Harta namun
tak seberapa, unsur yang paling dominan adalah hati dan badan.
Adapula
Ibadah itu di sebut Qolbiyah-Badaniyah dan Amaliyah. hati, badan dan harta.
Semua komponen ini sama-sama berperan.Seperti Ibadah Haji misalnya, hati berniat,
badan melaksanakan, harta di keluarkan baru terlaksana.Hati kepingin betul pergi
Haji, badan sehat, namun uang tidak punya ,selamat melamun. Uang banyak, badan sehat,
namun hati kurang semangat, liburan akhir tahunya pergi ke New York, London,
Paris, korea dan semacamnya. Tetapi ke Makkah belum pernah sampai.
Kali
ini, kita akan membahas Ibadah yang justru di tekankan adalah kepada Harta,
disebut Ibadah Maliyah. Memang harta yang di minta dikeluarkan dalam melaksanakan
ibadah itu, yaitu Zakat, Infaq dan Shadaqoh. Kesenjangan yang alami adalah Sunnatullah. Qur’an menjelaskan hal itu,
kami lebihkan kamu dari yang lain. Ada yang Kaya ada yang Miskin, ada yang Alim
dan ada pula yang awam.
Namun kenapa kesenjangan kita permasalahkan,?
Karena kesenjangan yang terjadi adalah kesenjangan Struktural. Kita menyadari bahwa
pemerataan bukan menciptakan Standar Ekonomi dengan standar ala Komunisme. Yang
kita harapkan pemerataan terciptanya peluang dan kesempatan. Artinya jikalau yang kaya semakin kaya, kenapa yang Miskin tidak
bisa ikut Kaya, atau paling tidak naik sedikitlah. Untuk itu Islam memberi anjuran
didalam harta kita, walaupun kita sudah berusaha dengan susah payah untuk mendapatkan
harta itu, namun ada haq orang lain yang harus kita keluarkan dalam bentuk
zakat.
Zakat berfungsi sebagai pembersih harta jika
Zakat Mal, sebagai pembersih jiwa jika Zakat Fitrah, pembersih harta jika Zakat
Zuru’, dan pembersih barang tambang jika Zakat Ma’adin dan seterusnya. Sebagaimana sabda Nabi “
bersihkan harta kalian dengan mengeluarkan zakat”. Tentunya dalam harta yang
kita cari, bercampur dengan sedikit
keharaman atau dengan perkara subhat itulah yang di bersihkan dengan zakat.
Namun ada yang menggunakan dalil ini secara
salah, kita korupsi saja nanti kita bersihkan harta itu dengan zakat , sebagaimana
sabda nabi “bersihkan harta kalian dengan mengeluarkan zakat” sudah kita
zakatkan, bersih sudah. Itukan politik many londry, itu tidak di kenal. kalau
mau kita analogikan begini “baju kita yang terkena najis bisa di sucikan, namun
najis itu sendiri Atau baju yang terbuat dari barang najis apakah bisa di sucikan ? tentu tidak, jadi
tidak bisa menggunakan dalil tersebut dalam hal ini.
jika tidak kita laksanakan, tidak kita
tunaikan maka Allah akan mencabut keberkahan dalam harta kita miliki,
untuk zakat memang ada haul ( ukuran
waktunya), nishab (ukuran dari jumlah yang harus kita keluarkan) jadi terikat
dengan haul dan nishab. Dalam Infaq tidak terkait dengan nisab, tetapi terikat
dengan situasi kondisi. Biasanya jika objek kita sedang berhasil, rezeki lancar
atau kedatangan rezeki yang tak di sangka-sangka. Dan pada Shadaqoh tidak
terikat degan apapun, any time kita bisa melakukanya. Dan itu semua di sebut
ibadah maliyah (harta).
Keberkahan terletak bagaimana kita mencari
harta dan bagaimana kita membelanjakanya dengan benar. Keberkahan terletak pada
orang yang menerima dan mendoakanya. kita seharusnya bersyukur ketika kita oleh
allah dijadiakan fungsi sebagai kran air, yang menyimpan tetapi tidak untuk
dirinya sendiri, tetapi untuk disalurkan kepada mereka yang memerlukan.dan sebagian
dari pendidikan puasa adalah tumbuhnya
kepekaan sosial, kepekaan melahirkan keperdulian dan keperdulian dengan dibuktikan
dengan zakat, infaq, paling tidak shadaqoh.
“al-yadul a’la khairum min yadi as-sufla”
tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah, adigium ini munkin benar
namun jika keduanya sama-sama ikhlas dalam menjalaninya maka hal itu bukan hal
yang hina. Karena keduanya saling membutuhkan.
Kita sering mendengar kaidah lil wasail
hukmul maqosid”, alat dan tujuan
menduduki status hukum yang sama. Agama memerintahkan untuk kita Sholat,
menutup aurat sebagai salah satu syarat dalam mengerjakan Sholat, maka secara
tidak langsung kita diperintahkan harus punya Industry Tekstil , agar kita bisa
menutupi aurat. di sisi lain kita di perintahkan menunaikan Zakat, inikan
sebenarnya anjuran Islam agar kita memiliki ekonomi yang kuat, maju, mapan dan mempunyai relasi agar bisa
mengeluarkan Zakat itu. Dan Kita juga diperintahkan untuk untuk menunaikan Haji,
maka secara langsung kita di perintah agar mengusai teknologi, bisa membuat
pesawat, karena kita tidak munkin berenang dari Indonesia ke Mekkah.
Kita harus sukses, kaya, memiliki Ekonomi yang mapan agar kita bisa
menjadi pelaksana Zakat bukan hanya sebagai penerimanya, kalaupun hari ini kita
berdiri pada barisan yang menerima zakat, namun kita kita tanamkan dalam hati
kita bahwa kedepan kita bisa kaya,ekonomi kita mapan agar kita bisa berpindah
menjadi yang membayar zakat. Wallahu a’lam bisshawab.
^oleh muhammad ali ridho Maha Santri Ma’had
Aly Asal Berau kal_tim.*Artikel ini pernah dimuat di Majalah Tebuireng edisi 30
Pesantren dan Pendidikan Moral kawula Muda*
Kita sudah sering disuguhi berita di
berbagai media, media cetak, televisi dan media online tentang perilaku
amoral yang dilakukan oleh para remaja dan juga orang dewasa. Prilaku
yang menyimpang dari Hukum Agama maupun Hukum Adat bahkan sudah
tergolong kriminal, seperti narkotika (narkoba), minuman keras (termasuk
oplosan), judi, free sex, tawuran dengan menggunakan senjata tajam dan
berbagai macam kasus lainnya.
Membicarakan diri para remaja sungguh
unik se unik membicarakan diri manusia itu. Para remaja yang mempunyai
ego tinggi tentang eksistensi diri biasanya lebih suka bersikap anti
konformitas (mukhalafah) agar cepat diperhatikan segala sesuatu yang
sebenarnya ada pada dirinya. dalam hal ini remaja sering berulah-salah,
sehingga cap negatif pada dirinya bertubi-tubi datang dan itu semakin
melemparkan mereka jauh dari tatanan yang ada (misalnya kenakalan
remaja). Sifat dasar manusia adalah enggan dimaki dan
dikutuk (meski
makian itu sesuai dengan prilakunya) tidak terkecuali para pemuda.
Karena itu, tulisan ini hanyalah sinopsis yang menawarkan pola pemikiran
tentang sebuah problem yang ingin direspon dengan cara apa.
Dalam al-Qur’an tergambar betapa Tuhan
sengaja mengekspresikan semangat para remaja dalam merespon problem yang
mengitari dirinya. Suatu situasi yang timbul berlawanan dengan norma,
akan menarik nalurinya bergerak mengatasi dengan cara apa saja yang
dimiliki. Naluri itu secara psikologis ada pada diri setiap manusia dan
cukup sensitif serta sangat berpotensi jika diberdayakan secara optimal.
jiwa remaja itu oleh para ilmuwan dinilai masih lumayan obyektif karena
belum banyak kepentingan. Namun tidak dipungkiri, bahwa watak dasarnya
tetap agresif-emosional. Karena itu mereka tetap tidak bisa berjalan
sendiri, harus dibimbing atau disatukan persepsinya. Maka wajar bila
tuhan menyatukan jiwa pemuda goa (ashab al-kahf) agar terbentuk kumulasi
(penyatuan) ide yang membulat (al-kahf :14).
Masa remaja adalah masa dimana manusia
mengalami pertumbuhan bentuk badan (fisik) dan pola berpikir. Jika luput
dari perhatian, sangat mungkin sekali perilakunya akan menyimpang,
erkait “moral, cara berpikir dan bertindak”. Timbulnya perubahan yang
cepat pada dirinya membutuhkan sesuatu agar mereka bisa menjaga diri
dari pengaruh pergaulan yang negatif. beberapa paparan referensi tentang
penyikapan terhadap problem para pemuda dapat dilihat pada paparan
berikut ini :
Pertama, peran orang tua selalu menjadi
faktor utama pembangunan karakter seorang anak. jika hubungan itu buruk,
yang terjadi adalah tidak terkontrolnya jiwa dan akal si anak tersebut.
Ketidakperdulian, ketidakharmonisan orang tua bisa membuat anak itu
menjadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya. dan kita tahu jika
sudah menyangkut dengan masalah itu. Anak ayam tanpa induknya selalu
menjadi mangsa yang empuk. begitu juga dengan seorang anak remaja jika
kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua, anak remaja itu akan
mencari dunia lain yang negatif. Hasilnya berani menyangkal orang tua,
jarang pulang, berkumpul dengan teman-teman yang akhlaknya tidak karuan
dan keganjilan-keganjilan dan yang lain.
Terkait pergaulan dalam islam sudah
dijelaskan secara gamblang sebagaimana sabda Rosul Saw. “Perumpamaan
teman bergaul yang buruk adalah seperti peniup api tukang besi, bisa
jadi dia akan membakar pakaianmu, atau (minimal) kamu akan mencium
darinya bau yang tidak sedap” mengenai pemahaman hadis ini terserah
penafsiran setiap pembacanya, namun yang jelas pergaulan dengan
lingkungan sekitarnya sangat mempengaruhi sikap dan cara berpikir para
remaja. Masih labilnya cara berpikir mereka memaksa orang tua untuk
terus memperhatikannya.
Kedua, banyaknya waktu luang pikiran bisa
jumud, jika sama sekali kita membiarkannya menganggur, buntu dan
membuat kita lemah sehingga jiwa juga lemah. akibatnya, khayalan dan
bisikan-bisikan pemikiran buruk, melahirkan keinginan-keinginan buruk
pula., sehingga waktu terbuang dengan sia-sia.
manusia selalu membutuhkan aktifitas,
untuk menghindari kekosongan, dan membiasakan berpikir. untuk mengatasi
hal ini, sebaiknya seorang remaja berusaha mengisi waktu luangnya dengan
kegiatan yang cocok dan bermanfaat, seperti membaca, menulis, kursus
bahasa, belajar, membantu kesibukan orang tua atau kegiatan lainnya,
walaupun hanya aktifitas sepele. kata orang jawa “Sing penting obah, ora
obah ora mamah” artinya, yang penting bergerak, (beraktifitas), tidak
bergerak maka tidak menghasilkan sesuatu.
Ketiga, meluruskan persangkaan keliru
para remaja terhadap ajaran agama. Persangkaan seringkali menimbulkan
ketidakpahaman. Ada yang menganggap aturan-aturan agama hanya mengekang
kebebasan dan mematikan potensi mereka. Benarkah? agama mengatur dan
mengarahkan dengan baik kebebasan tersebut (lebih tepatnya hawa nafsu),
agar tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain.
Pesantren dan pendidikan moral
Pesantren dan pendidikan moral
Sebagai institusi pendidikan tertua di
Indonesia, Pesantren memiliki segudang nilai-nilai yang belum begitu
dieksplorasi oleh kalangan internal pesantren sendiri. Dalam sejarah
perjalanan bangsa Indonesia, kita telah melihat bagaimana kontribusi
nyata Pesantren dalam melahirkan pemimpin yang berkarakter, kuat,
militan, penuh integritas, gigih, visioner, pantang menyerah dan ikhlas
dalam berjuang. Kontribusi tersebut tidak berhenti pada masa perjuangan
bangsa, melainkan hingga dewasa ini, pimpinan institusi tertinggi negara
banyak yang dipimpin oleh tokoh nasional dengan latar belakang
pesantren.
Melihat pendidikan Pondok Pesantren
Setidaknya ada berbagai macam keunggulan yang dimilikinya. Antara lain:
pertama, menggunakan pendekatan holistis dalam sistem pendidikannya .
Artinya para pengasuh pondok pesantren memandang bahwa kegiatan belajar
mengajar merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan
hidup sehari-hari. Bagi warga pondok pesantren, belajar di pondok
pesantren tidak mengenal perhitungan waktu.
Kedua,memiliki kebebasan terpimpin.
Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi,
karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Kebebasan mengandung
kecenderungan mematikan kreatifitas, karena pembatasan harus dibatasi.
Inilah yang dimaksud dengan kebebasan yang terpimpin. Kebebasan
terpimpin adalah watak ajaran Islam dan hal tersebut dapat dilihat dalam
pola pendidikan di Pondok pesantren.
Ketiga, berkemampuan mengatur diri
sendiri (mandiri). Di pondok pesantren, santri mengatur sendiri
kehidupannya menurut batasan yang diajarkan agama. Para santri melakukan
sendiri aktivitas keseharian mereka dengan independen. Mereka melakukan
aktivitas keseharian secara mandiri.
Keempat, memiliki kebersamaan yang tinggi. Dalam pondok pesantren berlaku prinsip; dalam hal kewajiban harus menunaikan kewajiban lebih dahulu, sedangkan dalam hak, individu harus mendahulukan kepentingan orang lain melalui perbuatan tata tertib.
Keempat, memiliki kebersamaan yang tinggi. Dalam pondok pesantren berlaku prinsip; dalam hal kewajiban harus menunaikan kewajiban lebih dahulu, sedangkan dalam hak, individu harus mendahulukan kepentingan orang lain melalui perbuatan tata tertib.
Kelima, Mengabdi kepada orang tua dan
guru. Tujuan ini antara lain melalui pergerakan berbagai pranata (norma)
di pondok pesantren seperti mencium tangan guru, dan tidak membantah
guru beserta dengan keluarganya.
kesimpulan penulis, untuk itulah
pesantren hadir di tangah-tengah kita, selain mencetak anak didik yang
tafakkuh fiddin, berwawasan luas juga mencetak anak didik yang
berakhlakul karimah. Sehingga lumrah dalam dunia pesantren dengan
sebutan bahwa pesantren sebagai bengkel moral, karena memang tidak ada
lembaga lain yang memang inten, mengayomi anak didiknya dalam perbaikkan
moral, kecuali pesantren. Sungguh besar jasa pesantren bagi bangsa ini,
makanya orang tua yang sadar dan mengerti tentang kemorosatan moral
remaja saat ini, dengan mengantarkan putra-putrinya kedunia pesantren,
yang tujuan utamanya adalah membina akhlakul karimah. wallahu a’lam.[]
*Pernah dimuat di tebuireng.org pada 24 Desember 2014
















