Minggu, 05 April 2015

Esensi zakat kita*



Setiap Ibadah dalam Agama kita mempunyai Stressing yang berbeda, ada Ibadah yang di sebut Ibadah Qolbiyah (hati), sekalipun anggota badan tidak banyak ikut berperan,  hal itu dinilai Ibadah. Kita bisa saja duduk santai di kantor, menghadapi tamu tapi di hati kita terbisik Lafadz Allah, itu namanya Ibadah hati, kita bisa saja berdiri di depan pantai, menikmati luasnya pantai terhampar membiru, hati kita berucap “ bukan main indahnya laut ini, kalau laut aja begini hebat, bagaimana lagi yang menciptkanan ? ” wisata yang seperti ini berpahala, karena kita tidak mengagumi laut, tetapi mengagumi yang menciptkan, ini di sebut Wisata Rohani, Ibadah Qolbiyah, Dzikir Khofy.
Adapula Ibadah Qolbiyah-Badaniyah, selain hati, anggota badan juga ikut berperan,  adapun harta tidak terlalu berperan, seperti Puasa Ramadhan,  asal hati punya keinginan dan mau mengerjakan, Ibadah itu bisa terlaksana, Sholat walaupun ada unsure Harta namun tak seberapa, unsur yang paling dominan adalah hati dan badan.
Adapula Ibadah itu di sebut Qolbiyah-Badaniyah dan Amaliyah. hati, badan dan harta. Semua komponen ini sama-sama berperan.Seperti Ibadah Haji misalnya, hati berniat, badan melaksanakan, harta di keluarkan baru terlaksana.Hati kepingin betul pergi Haji, badan sehat, namun uang tidak punya ,selamat melamun. Uang banyak, badan sehat, namun hati kurang semangat, liburan akhir tahunya pergi ke New York, London, Paris, korea dan semacamnya. Tetapi ke Makkah belum pernah sampai.
Kali ini, kita akan membahas Ibadah yang justru di tekankan adalah kepada Harta, disebut Ibadah Maliyah. Memang harta yang di minta dikeluarkan dalam melaksanakan ibadah itu, yaitu Zakat, Infaq dan Shadaqoh. Kesenjangan yang alami adalah Sunnatullah. Qur’an menjelaskan hal itu, kami lebihkan kamu dari yang lain. Ada yang Kaya ada yang Miskin, ada yang Alim dan ada pula yang awam.
Namun kenapa kesenjangan kita permasalahkan,? Karena kesenjangan yang terjadi adalah kesenjangan Struktural. Kita menyadari bahwa pemerataan bukan menciptakan Standar Ekonomi dengan standar ala Komunisme. Yang kita harapkan pemerataan terciptanya peluang dan kesempatan. Artinya jikalau  yang kaya semakin kaya, kenapa yang Miskin tidak bisa ikut Kaya, atau paling tidak naik sedikitlah. Untuk itu Islam memberi anjuran didalam harta kita, walaupun kita sudah berusaha dengan susah payah untuk mendapatkan harta itu, namun ada haq orang lain yang harus kita keluarkan dalam bentuk zakat.
Zakat berfungsi sebagai pembersih harta jika Zakat Mal, sebagai pembersih jiwa jika Zakat Fitrah, pembersih harta jika Zakat Zuru’, dan pembersih barang tambang jika Zakat Ma’adin  dan seterusnya. Sebagaimana sabda Nabi “ bersihkan harta kalian dengan mengeluarkan zakat”. Tentunya dalam harta yang kita cari,  bercampur dengan sedikit keharaman atau dengan perkara subhat itulah yang di bersihkan dengan zakat.
Namun ada yang menggunakan dalil ini secara salah, kita korupsi saja nanti kita bersihkan harta itu dengan zakat , sebagaimana sabda nabi “bersihkan harta kalian dengan mengeluarkan zakat” sudah kita zakatkan, bersih sudah. Itukan politik many londry, itu tidak di kenal. kalau mau kita analogikan begini “baju kita yang terkena najis bisa di sucikan, namun najis itu sendiri Atau baju yang terbuat dari barang najis  apakah bisa di sucikan ? tentu tidak, jadi tidak bisa menggunakan dalil tersebut dalam hal ini.
jika tidak kita laksanakan, tidak kita tunaikan maka Allah akan mencabut keberkahan dalam harta kita miliki, untuk  zakat memang ada haul ( ukuran waktunya), nishab (ukuran dari jumlah yang harus kita keluarkan) jadi terikat dengan haul dan nishab. Dalam Infaq tidak terkait dengan nisab, tetapi terikat dengan situasi kondisi. Biasanya jika objek kita sedang berhasil, rezeki lancar atau kedatangan rezeki yang tak di sangka-sangka. Dan pada Shadaqoh tidak terikat degan apapun, any time kita bisa melakukanya. Dan itu semua di sebut ibadah maliyah (harta).
Keberkahan terletak bagaimana kita mencari harta dan bagaimana kita membelanjakanya dengan benar. Keberkahan terletak pada orang yang menerima dan mendoakanya. kita seharusnya bersyukur ketika kita oleh allah dijadiakan fungsi sebagai kran air, yang menyimpan tetapi tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk disalurkan kepada mereka yang memerlukan.dan sebagian dari pendidikan puasa adalah  tumbuhnya kepekaan sosial, kepekaan melahirkan keperdulian dan keperdulian dengan dibuktikan dengan zakat, infaq, paling tidak shadaqoh.
al-yadul a’la khairum min yadi as-sufla” tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah, adigium ini munkin benar namun jika keduanya sama-sama ikhlas dalam menjalaninya maka hal itu bukan hal yang hina. Karena keduanya saling membutuhkan.
Kita sering mendengar kaidah lil wasail hukmul maqosid”, alat dan tujuan menduduki status hukum yang sama. Agama memerintahkan untuk kita Sholat, menutup aurat sebagai salah satu syarat dalam mengerjakan Sholat, maka secara tidak langsung kita diperintahkan harus punya Industry Tekstil , agar kita bisa menutupi aurat. di sisi lain kita di perintahkan menunaikan Zakat, inikan sebenarnya anjuran Islam agar kita memiliki ekonomi yang kuat, maju,  mapan dan mempunyai relasi agar bisa mengeluarkan Zakat itu. Dan Kita juga diperintahkan untuk untuk menunaikan Haji, maka secara langsung kita di perintah agar mengusai teknologi, bisa membuat pesawat, karena kita tidak munkin berenang dari Indonesia ke Mekkah.
Kita harus sukses, kaya,  memiliki Ekonomi yang mapan agar kita bisa menjadi pelaksana Zakat bukan hanya sebagai penerimanya, kalaupun hari ini kita berdiri pada barisan yang menerima zakat, namun kita kita tanamkan dalam hati kita bahwa kedepan kita bisa kaya,ekonomi kita mapan agar kita bisa berpindah menjadi yang membayar zakat. Wallahu a’lam bisshawab.
^oleh  muhammad ali ridho Maha Santri Ma’had Aly  Asal Berau kal_tim.
*Artikel ini pernah dimuat di Majalah Tebuireng edisi 30  






               

Pesantren dan Pendidikan Moral kawula Muda*

Kita sudah sering disuguhi berita di berbagai media, media cetak, televisi dan media online tentang perilaku amoral yang dilakukan oleh para remaja dan juga orang dewasa. Prilaku yang menyimpang dari Hukum Agama maupun Hukum Adat bahkan sudah tergolong kriminal, seperti narkotika (narkoba), minuman keras (termasuk oplosan), judi, free sex, tawuran dengan menggunakan senjata tajam dan berbagai macam kasus lainnya.
Membicarakan diri para remaja sungguh unik se unik membicarakan diri manusia itu. Para remaja yang mempunyai ego tinggi tentang eksistensi diri biasanya lebih suka bersikap anti konformitas (mukhalafah) agar cepat diperhatikan segala sesuatu yang sebenarnya ada pada dirinya. dalam hal ini remaja sering berulah-salah, sehingga cap negatif pada dirinya bertubi-tubi datang dan itu semakin melemparkan mereka jauh dari tatanan yang ada (misalnya kenakalan remaja). Sifat dasar manusia adalah enggan dimaki dan
dikutuk (meski makian itu sesuai dengan prilakunya) tidak terkecuali para pemuda. Karena itu, tulisan ini hanyalah sinopsis yang menawarkan pola pemikiran tentang sebuah problem yang ingin direspon dengan cara apa.
Dalam al-Qur’an tergambar betapa Tuhan sengaja mengekspresikan semangat para remaja dalam merespon problem yang mengitari dirinya. Suatu situasi yang timbul berlawanan dengan norma, akan menarik nalurinya bergerak mengatasi dengan cara apa saja yang dimiliki. Naluri itu secara psikologis ada pada diri setiap manusia dan cukup sensitif serta sangat berpotensi jika diberdayakan secara optimal. jiwa remaja itu oleh para ilmuwan dinilai masih lumayan obyektif karena belum banyak kepentingan. Namun tidak dipungkiri, bahwa watak dasarnya tetap agresif-emosional. Karena itu mereka tetap tidak bisa berjalan sendiri, harus dibimbing atau disatukan persepsinya. Maka wajar bila tuhan menyatukan jiwa pemuda goa (ashab al-kahf) agar terbentuk kumulasi (penyatuan) ide yang membulat (al-kahf :14).
Masa remaja adalah masa dimana manusia mengalami pertumbuhan bentuk badan (fisik) dan pola berpikir. Jika luput dari perhatian, sangat mungkin sekali perilakunya akan menyimpang, erkait “moral, cara berpikir dan bertindak”. Timbulnya perubahan yang cepat pada dirinya membutuhkan sesuatu agar mereka bisa menjaga diri dari pengaruh pergaulan yang negatif. beberapa paparan referensi tentang penyikapan terhadap problem para pemuda dapat dilihat pada paparan berikut ini :
Pertama, peran orang tua selalu menjadi faktor utama pembangunan karakter seorang anak. jika hubungan itu buruk, yang terjadi adalah tidak terkontrolnya jiwa dan akal si anak tersebut. Ketidakperdulian, ketidakharmonisan orang tua bisa membuat anak itu menjadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya. dan kita tahu jika sudah menyangkut dengan masalah itu. Anak ayam tanpa induknya selalu menjadi mangsa yang empuk. begitu juga dengan seorang anak remaja jika kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua, anak remaja itu akan mencari dunia lain yang negatif. Hasilnya berani menyangkal orang tua, jarang pulang, berkumpul dengan teman-teman yang akhlaknya tidak karuan dan keganjilan-keganjilan dan yang lain.
Terkait pergaulan dalam islam sudah dijelaskan secara gamblang sebagaimana sabda Rosul Saw. “Perumpamaan teman bergaul yang buruk adalah seperti peniup api tukang besi, bisa jadi dia akan membakar pakaianmu, atau (minimal) kamu akan mencium darinya bau yang tidak sedap” mengenai pemahaman hadis ini terserah penafsiran setiap pembacanya, namun yang jelas pergaulan dengan lingkungan sekitarnya sangat mempengaruhi sikap dan cara berpikir para remaja. Masih labilnya cara berpikir mereka memaksa orang tua untuk terus memperhatikannya.
Kedua, banyaknya waktu luang pikiran bisa jumud, jika sama sekali kita membiarkannya menganggur, buntu dan membuat kita lemah sehingga jiwa juga lemah. akibatnya, khayalan dan bisikan-bisikan pemikiran buruk, melahirkan keinginan-keinginan buruk pula., sehingga waktu terbuang dengan sia-sia.
manusia selalu membutuhkan aktifitas, untuk menghindari kekosongan, dan membiasakan berpikir. untuk mengatasi hal ini, sebaiknya seorang remaja berusaha mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang cocok dan bermanfaat, seperti membaca, menulis, kursus bahasa, belajar, membantu kesibukan orang tua atau kegiatan lainnya, walaupun hanya aktifitas sepele. kata orang jawa “Sing penting obah, ora obah ora mamah” artinya, yang penting bergerak, (beraktifitas), tidak bergerak maka tidak menghasilkan sesuatu.
Ketiga, meluruskan persangkaan keliru para remaja terhadap ajaran agama. Persangkaan seringkali menimbulkan ketidakpahaman. Ada yang menganggap aturan-aturan agama hanya mengekang kebebasan dan mematikan potensi mereka. Benarkah? agama mengatur dan mengarahkan dengan baik kebebasan tersebut (lebih tepatnya hawa nafsu), agar tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain.
Pesantren dan pendidikan moral
Sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, Pesantren memiliki segudang nilai-nilai yang belum begitu dieksplorasi oleh kalangan internal pesantren sendiri. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kita telah melihat bagaimana kontribusi nyata Pesantren dalam melahirkan pemimpin yang berkarakter, kuat, militan, penuh integritas, gigih, visioner, pantang menyerah dan ikhlas dalam berjuang. Kontribusi tersebut tidak berhenti pada masa perjuangan bangsa, melainkan hingga dewasa ini, pimpinan institusi tertinggi negara banyak yang dipimpin oleh tokoh nasional dengan latar belakang pesantren.
Melihat pendidikan Pondok Pesantren Setidaknya ada berbagai macam keunggulan yang dimilikinya. Antara lain: pertama, menggunakan pendekatan holistis dalam sistem pendidikannya . Artinya para pengasuh pondok pesantren memandang bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan hidup sehari-hari. Bagi warga pondok pesantren, belajar di pondok pesantren tidak mengenal perhitungan waktu.
Kedua,memiliki kebebasan terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi, karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Kebebasan mengandung kecenderungan mematikan kreatifitas, karena pembatasan harus dibatasi. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan yang terpimpin. Kebebasan terpimpin adalah watak ajaran Islam dan hal tersebut dapat dilihat dalam pola pendidikan di Pondok pesantren.
Ketiga, berkemampuan mengatur diri sendiri (mandiri). Di pondok pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menurut batasan yang diajarkan agama. Para santri melakukan sendiri aktivitas keseharian mereka dengan independen. Mereka melakukan aktivitas keseharian secara mandiri.
Keempat, memiliki kebersamaan yang tinggi. Dalam pondok pesantren berlaku prinsip; dalam hal kewajiban harus menunaikan kewajiban lebih dahulu, sedangkan dalam hak, individu harus mendahulukan kepentingan orang lain melalui perbuatan tata tertib.
Kelima, Mengabdi kepada orang tua dan guru. Tujuan ini antara lain melalui pergerakan berbagai pranata (norma) di pondok pesantren seperti mencium tangan guru, dan tidak membantah guru beserta dengan keluarganya.
kesimpulan penulis, untuk itulah pesantren hadir di tangah-tengah kita, selain mencetak anak didik yang tafakkuh fiddin, berwawasan luas juga mencetak anak didik yang berakhlakul karimah. Sehingga lumrah dalam dunia pesantren dengan sebutan bahwa pesantren sebagai bengkel moral, karena memang tidak ada lembaga lain yang memang inten, mengayomi anak didiknya dalam perbaikkan moral, kecuali pesantren. Sungguh besar jasa pesantren bagi bangsa ini, makanya orang tua yang sadar dan mengerti tentang kemorosatan moral remaja saat ini, dengan mengantarkan putra-putrinya kedunia pesantren, yang tujuan utamanya adalah membina akhlakul karimah. wallahu a’lam.[]
*Pernah dimuat di tebuireng.org pada 24 Desember 2014

Minggu, 22 Maret 2015

Hidupkan Tradisi Diskusi Mahasiswa!



“beberapa waktu yang  lalu, ada sebuah obrolan  ‘apik’ diwarung kopi bersama segenap teman-teman. Obrolan itu terkait bagaimana mengelola diskusi kita agar semakin membaik,  termasuk juga bagaimana merangsang kawan-kawan agar gemar berdiskusi. Karena sepertinya selama ini mahasantri belum merasa butuh dengan diskusi itu, dan diskusi yang digelar belum berjalan dengan maksimal, terkesan yang penting apa adanya, ”asal-asalan”. Memang selama ini kita kekurangan SDM untuk mengelola diskusi itu, mulai dari moderator,  pemateri dan lain-lain.”
Bagaimanapun juga kegiatan diskusi merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap mahasiswa. Sudah menjadi kewajiban mahasiswa/wi untuk mengisi kegiatannya dikampus maupun diluar kampus untuk mengadakan berdiskusi. Matinya kegiatan diskusi dikalangan mahasiswa menjadi penanda buruk bagi civitas suatu kampus. Mengingat, kampus merupakan arena untuk melahirkan tokoh-tokoh intelektual. Membaca dan berdiskusi merupakan satu kesatuan yang tak bisa ditinggalkan. Apakah, cukup bagi mahasiswa dalam berproses menimba ilmu sekedar datang kekampus lalu pulang kembali?
Nah, inilah yang semestinya menjadi catatan bersama-sama. Bahwa, menghidupkan kegiatan ilmiah menjadi tugas bersama. Sepertinya menjadi suatu alasan yang tidak mendasar, jika kegiatan tradisi diskusi di kampus kebingungan mencari pemateri misalnya. Banyak dosen yang memiliki intregritas dan kepabilitas dalam suatu keilmuan. Tinggal, bagaimana mengkomunikasikannya. Sampai kapan hal demikian terus berlarut. Sangat disayangkan apabila kematian diskusi menjadikan sebuah kampus juga ikut mati suri.
Abdullah Badri dalam bukunya “Kritik Tanpa Solusi: 2012” memberikan kritikan sangat pedas kepada para mahasiswa/wi. Menurutnya, ada empat dosa besar mahasiswa yang harus ditaubati dalam bahasa peradaban. Pertama, tidak suka membaca. Mahasiswa akan kehilangan wajah peradaban (agent social of change), kalau membaca hanya ritus periodik yang terpaksa ditekuni kala mengerjakan tugas kuliah saja. Pandangan umum, mahasiswa adalah makhluk canggih yang paham segala apa dari siapa. Tapi karena membaca bukan tradisi baginya, ia tak ubahnya keledai yang membawa kertas-kertas bertumpuk ke manapun di pundaknya. Ia orang yang digadang sebagai pembaru, tapi awam sekali dengan gagasan pembaharuan, karena malas membaca.
Kedua, enggan berdiskusi. Mungkin saja seorang mahasiswa suka membaca. Mungkin pula dia tahu banyak hal yang dia baca. Namun, tanpa diskusi sebagai pelengkap wacana, apalagi dengan orang lain yang berseberang pemikiran, ia akan menjadi “kambing jantan” di kandang sendiri. Pemikirannya yang menumpuk, unek-uneknya yang seabrek, tak pernah terkena cuaca dan iklim luar. Pemikiran yang “dilemari eskan” akan membeku dalam pembenaran tanpa nalar, kekuasaan tanpa pelayanan. Maunya menang sendiri, karena diskusi dianggap mencemari pemikiran diri. 
Ketiga, malas bersosialisasi. Sombong banget mahasiswa yang berpuas pada dirinya saja. Hanya. Dia tidak mau bergaul dengan selain komunitasnya. Ekslusifitas yang dibiasakan membuat ia tak mengenal lingkungan, apalagi dunia luar yang acapkali berbeda dari bayangan imajinasinya. Saya ingat betul petuah guru: kalau kamu kuliah, perbanyaklah teman, belajar hanya formalitas yang tak boleh ditinggalkan. Tanpa koneksi, produk pendidikan perguruan tinggi hanya akan menjadi “sampah”. Jengah saya melihat kawan-kawan mahasiswa yang semasa hidup di kampus punya prestasi tinggi, tapi setelah lulus, masih mengiba dan mengemis dengan ijazahnya dan tak kunjung diterima. Karena ia dulu malas bersosialisasi. Tak mau berorganisasi, berkoneksi.
Keempat, malas menulis. Tradisi ini yang nempaknya belum menjadi gejala akademik yang memuaskan. Banyak mahasiswa kita yang pandai bersilat lidah, tapi meludahkan pemikirannya dalam bahasa tulis kepayahan. Cara berkelitnya banyak; tidak berbakat, tak ada waktu, hingga berkata dengan percaya diri: hanya orang-orang tertentu saja yang diberkati hidayah menulis. Walhasil, para mahasiswa budiman yang suka membaca tapi tak punya karya, ia menjadi intelektual oral jalanan, yang suka bicara (berkhotbah) di mana-mana, punya pengikut banyak, tapi hanya di kandangnya sendiri. Begitu berhadapan dengan orang lain di luar sana, ia seperti mahasiswa semester awal yang baru saja melepas seragam OSPEK. Awam.
Sungguh, kritikan diatas sangat tajam dan mampu menyayat kita sebagai mahasiswa. Hemat penulis, suka atau tidak suka, kegiatan diskusi harus dihidupkan kembali!   Ada beberapa hal dalam hal ini. Pertama, menentukan tema apa yang akan dibahas dalam diskusi  misalnya, berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan, membincangkan segala sesuatu yang menyangkut dengan dunia kita sehari-hari atau memperdalam penngetahuan yang ada dikampus. Kedua, mencari buku yang bisa dijadikan referensi untuk membuka pengetahuan. Buku apa saja yang penting disepakati oleh kawan-kawan. Semisal, buku  kiri islam, Sejarah Islam, wacan keIslaman, dll.
Ketiga, mencari fasilitator yang menguasai dibidangnya, agar diskusi itu berjalan dengan matang Sehingga,  peserta diskusi benar-benar mendapat pemahaman, karena termasuk salah satu faktor yang membuat teman-teman malas ikut diskusi disebabkan fasilitatornya kurang makimal, sehingga mahasantri merasa tidak mendapatkan apa-apa ketika selesai mengikuti diskusi.
Dengan memelihara kegiatan ilmiah seperti berdiskusi di kampus akan membantu membukakan mahasiswa dengan dunia buku, kritis, dan peka terhadap problem-problem kontemporer. Sudah saatnya, hal ini membukakan mata kita semua untuk tidak bersikap apatis. Dalam rangka menumbuhkan kesadaran dalam hal ini, penting mendorong segenap pihak jajaran dosen untuk bersama-sama peduli akan nasib diskusi. Bagaimanapun juga, kampus bukanlah tempat mengubur kegiatan ilmiah, namun mengembangkan dan menciptakan suasana yang menggairahkan khususnya dalam hal berdiskusi.( dimuat di buletin maha media, edisi 29)

Oleh, Muhammad Ali Ridho, Mahasiswa unhasy, jombang


Selasa, 17 Maret 2015

Menapaki Tanah Sidogiri

Menapaki Tanah Sidogiri*

Beberapa waktu yang lalu  saya diberi kesempatan  berkunjung ke pondok Pesantren Sidogiri, pondok salaf namun tidak ketinggalan zaman,  saat saya berkunjung kepondok ini, saya merasa berada di pusaran keilmuan yang diri ini tidak berarti apa-apa. Begitu bodoh dan kecil. Begitu mudahnya kita menemukan santri yang mahir membaca baca kitab kuning, hafal Alfiyah ibn Malik dan begitu mudahnya pula kita menemukan kelompok diskusi kitab kecil-kecilan di jerambah-jerambah asrama, di ruangan kelas, di ruangan perpustakaan bahkan di pelataran halaman pondok. Sungguh, melihat pondok Sidogiri kali ini, saya serasa di bawa pada era keemasan Islam di abad pertengahan silam. pondok Sidogiri begitu mateng dalam berbagai bidang, mulai dari pengelolaan pendidikan, badan Press Pesantren, Pengabdian kemasyarakat, sampai masalah   ekonominya.

kegiatan santri di Pesantren Sidogiri dibagi menjadi dua macam, kegiatan Mahadiyah dan kegiatan Madrasiyah. Yang dimaksud dengan kegiatan Mahadiyah adalah kegiatan yang harus diikuti oleh semua santri yang ada di Pesantren. Sedang kegiatan Madrasiyah merupakan kegiatan yang diikuti para santri dan siswa yang  tidak mondok di Pesantren (kalong).

Pendidikan yang diselengarakan di madrasah (kegiatan Madrasiyah) sidogiri yaitu mulai tingkatan ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan kuliah syariah. Untuk menunjang pendidikan, MMU PPS mendirikan sebuah perpustakaan pada 1973. Perpustakaan pesantren terbesar di Indonesia ini memiliki koleksi sekitar 5.000 judul dengan lebih dari 12 ribu kitab dan buku, di samping juga ribuan kaset, CD video, dan software. Perpustakaan yang rata-rata dikunjungi tiga ribu orang setiap hari ini juga menjadi sarana pendidikan alternative. ''Untuk pengembangan, pengelola perpustakaan bekerja sama dengan berbagai perpustakaan perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, dan setiap tahunnya 100 Juta dana yang digelontorkan untuk memajukan perpustakaan tersebut.

Perlu dipahami bahwa pesantren sejatinya tidak hanya memikirkan bagaimana pengembangan lembaga pendidikan, tapi pesantren harus memikirkan kemandirian ekonomi. Tidak mungkin sebuah lembaga pendidikan akan kuat tanpa didukung oleh finansial yang cukup. Kemandirian ekonomi pesantren dapat membawa manfaat besar bagi pesantren dan masyarakat. Inilah yang dilakukan Pondok Pesantren Sidogiri melalui Kopontren Sidogiri. Pondok Pesantren Sidogiri saat ini memperluas usaha di bidang ekonomi untuk menopang kekuatan pesantren. Puluhan unit Usaha berhasil dirintis dan dikembangkan oleh Pesantren hingga saat ini. Jumlah Unit Usaha Pesantren sampai saat ini berjumlah sekitar 60-an.

Di samping itu, Pesantren Sidogiri juga mengabdi untuk sosial-kemasyarakatan. Yayasan Bina Saadah Sidogiri (YBSS) merupakan lembaga yang didirikan untuk meningkatkan kiprah Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang sosial-kemasyarakatan. Untuk meneguhkan kemanfaatan di masyarakat, Yayasan Bina Saadah Sidogiri (YBSS) Pondok Pesantren Sidogiri mempunyai empat sub lembaga, yaitu; Laziswa Sidogiri, Darul Aitam Sidogiri Surabaya (DAS-Surabaya), Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Shafa Marwah, dan Darul Khidmah Sidogiri (DKS).

Selanjutnya dari badan pres pesantren menaungi 16 media pers di PPS yang aktif menginformasikan berita dan kajian-kajian aktual tiap harinya. Media-media tersebut diterbitkan oleh berbagai instansi yang ada di PPS dengan orientasi dan segmen yang berbeda-beda. Bahkan salah satu media pers di PPS ini ada yang sudah merambah ke pasaran Nasional, seperti Buletin Sidogiri. Meskipun bernama Buletin Sidogiri, ini bukanlah sebuah buletin, tapi majalah yang isinya kurang lebih 100 halaman. Menurut Zainuddin Rusdy salah seorang Tim Redaksi Buletin Sidogiri, nama majalah Buletin Sidogiri ini sudah terdaftar dan izinnya juga dengan nama itu. Memang pada awalnya, majalah itu berasal dari buletin yang rutin diterbitkan PPS, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan juga semakin kompleknya yang harus dimuat, maka kami merubahnya menjadi sebuah majalah, jelasnya.

Untuk menertibkan media-media pers yang ditulis oleh tiap instansi ini, PPS telah mendirikan Badan Pers Pesantren (BPP) sejak tahun 1428 H. “Tugas dari BPP ini adalah mengawasi, mengkoordinir dan mengarahkan media-media terkait standar isi, tampilan desain, jadwal terbit, orientasi isi dan segmen pembaca masing-masing media pers. BPS ini  juga bertanggungjawab atas proses seleksi dan redaksional media-media tersebut”.

Oleh karena itu, tegasnya, setiap naskah dari media yang akan terbit harus diserahkan kepada BPP untuk dikoreksi dan diedit. Hal ini untuk menjamin isi naskah tersebut tidak bertentangan dengan standar umum yang telah ditetapkan BPP. Diantaranya, tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal jamaa’ah, baik secara aqidah, syari’ah dan akhlak. Tidak bertentangan dengan tradisi luhur pesantren, yang diteladankan oleh para masyayikh Sidogiri. Dan tidak rentan menimbulkan keresahan masyarakat.

Selain menetapkan standar umum, BPP juga mengupayakan agar masing-masing media memiliki garis umum sesuai dengan visi-misinya dan mendorong profesionalisme dengan mematuhi jadwal terbitnya. BPP juga mengagendakan beberapa pelatihan dan lomba untuk meningkatkan kualitas media-media di PPS ini. Itulah sedikit oleh-oleh saat kami mengunjungi Pondok Pesantren Sidogiri, semoga bermanfaat.